Laman

Selasa, 18 November 2014



Disusun Guna Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah Materi SKI II
Dosen Pengampu :Drs. Yuslam, M.Pd
5 PAI-E
1.Ulfa Nurul Sangadah        1223301169
2.Veni Rahayu                       1223301171
3.Wahyu Fajar Saefulloh     1223301173



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
PURWOKERTO
2014

A.    Pendahuluan
Perjalanan umat Islam memiliki kekhasan tersendiri pada setiap daerah yang diduduki. Islam memiliki sejarah panjang dan variasi model penyebaran yang unik dan berliku. Jika ditilik dari perspektif Barat, maka Islam tidak lebih dari sebuah ajaran yang diperjuangkan dengan darah dan pedang. Akan tetapi tidak sedikit pula Islam hadir di tengah masyarakat dengan damai, karena Islam mampu mendialogkan ajaran agama dengan realitas masyarakat setempat. Salah satu contoh kebangkitan kekuatan muslim adalah berhasilnya menanamkan anasir ajaran tauhid di kalangan Mongol.
Sejarah kemunculan bangsa Mongol di bawah pimpinan Chengis Khan merupakan bagian dari sejarah dunia yang menarik dan popular, terutama bagi sejarah peradaban umat Islam. Peristiwa tersebut menarik untuk dikaji lebih dalam karena bangsa Mongol adalah suku bangsa yang besar dan memiliki pengaruh signifikan di kawasan Asia Tengah. Berikut ini adalah catatan singkat tentang berkembangnya Islam di kalangan Mongol.
















B.     Asal-Usul Bangsa Mongol
Sejarah Mongol dalam catatan sejarah dimulai pada akhir abad XII dan awal abad XIII M. Tampaknya pada mulanya bangsa Mongol adalah suatu masyarakat hutan, yang mendiami hutan Siberia dan Mongolia luar di antara gurun pasir Gobi dan Danau Baikal. Sejarahwan Cina beranggapan bahwa nama Mongol berasal dari bahasa Cina “Mong” (pemberani).[1]
Secara geografis, bangsa Mongol berasal dari daerah pegunungan Mongolia yang membentang dari Asia Tengah, Turkistan Timur, Siberia Utara, Tibet Selatan, dan Machuria Barat. Dalam tradisi bangsa Mongol, Alanjha Khan adalah nama nenek moyang mereka yang dipercayai mempunyai dua putera kembar, yang bernama Tartar dan Mongol. Dari kedua putera kembar itu, berkembanglah dua suku bangsa besar, yaitu bangsa Mongol dan Tartar.[2]
Dilihat dari perspektif kebudayaannya, secara umum bangsa Mongol dapat diklasifikasikan sebagai berikut. Pertama, kebudayaan mereka yang dipengaruhi oleh kebudayaan Cina, yaitu mereka yang tinggal di dekat dinding tembok Cina, yang disebut bangsa Tartar putih. Kedua, suku Mongol yang menempati daerah sebelah utara gurun Gobi, memeluk agama kristen Nestorian, dan disebut bangsa Tartar hitam. Ketiga, mereka yang tinggal di hulu sungai Onon dan Krulen.[3]
Sejarah Bangsa Mongol, kelihatannya mencoreng tinta hitam, menghambat dalam kemajuan peradaban dunia. Sejak muncul sampai hancurnya kekuasaan Mongol, identik dengan teror, kerusakan, pembunuhan masal, dan pembakaran yang tidak ada duanya. Chengis Khan meninggalkan kesan yang sangat mengagumkan. Kemenangan perang diberbagai ekspedisi oleh Chengis membuktikan dirinya sebagai penguasa yang kuat. Lane Poole mencatat bahwa ia seorang bukan hanya penghancur tapi juga seorang penakluk sejati. Dalam sistem pemerintahan, Chengis dipengaruhi oleh penguasa China terkemuka, Yel Cutshai. 
Kemenangan Chengis di medan perang bukan karena jumlah tentaranya, tetapi kualitas, disiplin, ketat, dan latihan yang tinggi.[4]
Kehadiran Bangsa Mongol yang kemudian di tindak lanjuti dengan proses penguasaaan mereka bagi dunia Islam, dapat dikatakan sebagai periode tragedi kemanusiaan. Serbuan bangsa Mongol bagai air bah yang melabrak apa saja yang dilaluinya. Anak kecil, masjid, istana, orangtua, gedung mushola, ataupun benda-benda berharga budaya dan semuanya dihancurkan, di bakar, dan disemelih tanpa rasa kemanusiaan. Salah satu bukti yang memperkuat paparan di atas dapat di lihat dari momen kronologi keruntuhan khilafah Abbasiyah yang telah diporak porandakan.[5]
Sesuai dengan garis ketentuan Tuhan yang harus diyakini, Mongol telah berjuang untuk menaklukkan beberapa wilayah yang ternama dan merampas Asia Timur, Timur Tengah, dan beberapa wilayah gurun Eropa Timur di bawah pemerintahan mereka. Hanya dalam beberapa dekade bangsa Mongol telah menguasai seluruh Eurasia dan Eropa Tengah sampai ke wilayah Pasifik. Imperium yang sangat luas ini di bagi-bagi di antara empat putera Jengis Khan yaitu :
Pertama ialah Juchi, anaknya yang sulung mendapat wilayah Siberia bagian barat stepa Qipchaq yang membentang hingga ke Rusia Selatan, di dalamnya terdapat Khawarizm. Namun ia meninggal dunia sebelum ayahnya wafat, dan wilayah warisannya itu diberikan kepada anak Juchi yang bernama Batu dan Orda.
Kedua ialah Chagatai, mendapat wilayah yang membentang ke timur, sejak dari Transoxania hingga Turkistan Timur atau Turkistan Cina.
Ketiga bernama Ogodai, adalah putra Jenghiz Khan yang terpilih oleh Dewan Pimpinan Mongol untuk menggantikan ayahnya sebagai Khan Agung yang mempunyai wilayah kekuasaan di Pamirs Tien Syan. Tetapi dua generasi Kekhanan Tertinggi jatuh ke tangan keturunan Toluy.
Keempat ialah Tolui, si bungsu mendapat bagian wilayah Mongolia sendiri. Anak-anaknya, yakni Mongke dan Qubilay menggantikan Ogotay sebagai Khan Agung. Mongke bertahan di Mongolia yang beribukota di Qaraqarum, sedangkan Qubilay Khan menaklukan Cina dan berkuasa disana yang dikenal sebagai Dinasti Yuan yang memerintah hingga abad keempatbelas, yang kemudian digantikan oleh dinasti Ming.[6]
Invansi bangsa Mongol di wilayah Islam dapat dipolarisaaikan ke dalam tiga periode : pertama, invasi bangsa Mongol pada masa Jhengis Khan, pada masa ini seluruh wilayah Asia Tengah (Khawarizm) jatuh ke tangan bangsa Mongol, kedua, invasi bangsa Mongol pada masa Hukaghu Khan, ia merupakan cucu Jengis Khan yang wilayah kekuasaannya di wilayah-wilayah Islam melebihi kakeknya. Ketiga, invasi bangsa Mongol pada masa Timur Lenk merupakan keturunan dari Jhengis Khan yang berkuasa dengan membangun dinasti Timuriyyah.

C.    Mongol Islam
1.      Dinasti Changtai (1227-1359)
            Sejak awal chnghtai merupakan seorang administrator yang ulung. Saat Chengis menyerang Asia Tengah, ia ikut bersamanya. Kesempatan bersama chengis inilah, cheghtai banyak belajar dan menguasai sistem pemerintahan, peraturan-peraturan negara, dan strategi berperang, serta pelestarian adat istiadat setempat terutama di Persia. Karena kemampuannya, maka semasa chengis, ia diberi wewenang penuh oleh ayahnya untuk memerintah sebagian wilayah kekuasaan chengis. Sepeninggal chengis, cheghtai (1227-1241) yang berkuasa sebagai kepala wilayah di bawah Khan Agung, sekitar Transoxinia. Ia sangat taat kepada UUD Mongol dan hormat kepada sistem yang di bangun Chengis. Chaghtai membenci dengan aturan Islam dan membenci umat Islam. Oleh karena itu umat Islam tidak menyukainya seperti sama ayahnyadan kemenakannya, Hulagu.
            Meskipun Chaghtai membenci terhadap Islam dan para pemeluknya, namun ia memiliki mentri (Islam) berasal dari Utrar, Qutub al-Din Habs yang banyak membantu chaghtai dalam urusan kenegaraan.Chaghttai adalah putra Chengis, ia teap taat pada wasiat ayahnya yang membagi-bagi kekuasaannya kepada empat putranya semasa hayatnya. Ia bersedia sebagai gubernur di bawah kekuasaan Oghtai, Khan Agung. Atas nama Chaghtai, dinasti yang berkembang dan dikendalikan oleh keturunannya, di sebut Dinasti Chaghtai. Tetapi tidak serta merta pada masa hayat atau langsung setelah Chaghtai meninggal. Keturunannya bernama Olghu Khan yang secara formal menolak kedaulatan Khan Agung, dan mendirikan Dinasti Chaghtai yang independen di Asia Tengah. Keturunan Chaghtai hampir 150 (1227-1369) th berkuasa di Transoxiana sebagai basis daerah politik mereka. Namun ia di pecat oleh Khan Agung, Ghuyuk (1241-1248) dan diganti oleh putra kelima dari Chaghtai, Ishu Mongki. Karena Mongki terlibat dalam penggulingan Khan Agung, maka ia di pecat oleh Ghuyuk Khan, kemudian di bunuh. Selanjutnya Kara diangkat lagi sebagai penguasa Transoxiana pada tahun 1251 M. Pada tahun itu pula ia mendadak meninggal dunia, maka ibu Negara, Orghana (Janda Kara), menjalankan tugas suaminya. Ia sangat memperhatikan kepada orang-orang Islam. Sebagian besar sejarahwan berpendapat bahwa Orghana telah memeluk IslamSetelah Orghana, putranya, Mubarak Shah menjadi penguasa (1266) muslim yang pertama memerintah pada dinasti ini. Mubarak Khah merupakan penguasa dari bangsa Mongol pertama yang memakai nama Islam. Pada tahun itu pula digulingkan oleh pamannya sendiri, Buraq Khan, Perlakuan serupa juga dialami oleh Ahmad penguasa Dinasti Ilkhan.
            Setelah Mubarak, pemerintah dilanjutkan oleh Buraq Khan (anak chagtai). Ia kalah dengan Kaydu dan tunduk padanya. Buraq adalah kemenakan dari Khan Agung, Kuyuk. Ia dengan berani disertai suport dari alat negara yang tangguah., berhasil merajai Asia Tengah dan Afganistan. Dan juga membuktikan keberaniannya dengan sekuat tenaga melawan Kublai, Khan Agung. Saaat pulang menyerbu Karakuram, ia wafat, maka berakhirlah Dinasti Ulu, salah satu cabang dari Dinasti Chaghtai. Setelah Buraq wafat, dengan dukungan kaydu, Nikopai, cucu Chaghtai menjadi penguasa.  Kemudian penggantinya, Buka Timur (putra Chaghtai) dan setelah Buka, anaknya Buraq, Dua Khan naik tahta. Dua Khan adalah seorang pejuang dan panglima tangguh yang dibuktikan dengan kemenangan telak di berbagai perang yang selalu mendukung dan membantu di bawah intruksi Kydu. Setelah ia meninggal para penguasa Chaghtai, semua adalah dari keturunannya.
            Tiga putra  Khan memerintah Dinasti ini: Ishen Buka, Khan kabak, dan Tharmashirin. Pada tiga pemerintahan itu Tarmashirinlah yang paling populer dan berhasil menjalankan roda pemerintahan Chaghtai. Setelah ia masuk Islam, memakai nama Islam, Alauddin. Shirin dilengser dari kekuasaan dengan jalan memberontak oleh kemenakannya, Bujan. Tidak lama kemudian ia wafat. Saat Timur berkuasa, penguasa Chaghtai, Tura Khan memerintah sebagai boneka, tanpa power.
            Adanya konflik ditubuh istana Chaghtai maka dengan mudah Timur dapat merebut daerah tersebut. Komflik berdarah itu berlangsung cepat, sehingga dalam waktu singkat kekuasaan berganti sebanyak 17 penguasa yang rata-rata memimpin 1-2 tahun.[7]
2.      Golden Horde (1256-1391)
            Dalam sejarah Mongol kemunculan Golden Horde sangat menarik. karena dari anak cabang Dinasti itu paling lama berkuasa dan membawa kejayaan dalam peradaban di Asia dan Eropa. Pada masa Oghtai terjadi penaklukan besar-besaran terhadap lembaga Sungai Vulgha dan Siberia. Dalam penaklukan ini dipimpin oleh Batu, anak dari mendiang Jochi. Batulah pendiri Dinasti Kipcak. Pada generasi selanjutnya melahirkan keturunan Golden Horde. Kemunculan Golden Horde menurut Spuler, asal kata dari Sira Wardu, sedang Lane Poole Sir Wardah, yang artinya”kemah emas”. Para penguasa Golden Horde dalam pertemuan perdana terutama yang muslim, setelah shalat Jum’at, duduk di pavilium dengan segala perabotannya berwarna emas, terkenal dengan The Golden Pavilion. Wilayah kekuasaan Batu di sebelah selatan adalah pegunungan Kaukasus, di sebelah barat dari Laut Hitam termasuk negara-negara yang didiami oleh bangsa Slav samapai dengan Polandia Utara. Batu adalah ahli perang yang ambisius dan seorang negarawan. Awal kekuasaannya ia menaklukkan kerajaan khawarizam ynag pernah di taklukkan Chaghtai. Akhirnya daerah kekuasaannya ia tinggalkan ketika ia wafat. Saat itu Sartak, putra Batu berada di Karakuram ia segera menuju Sarai namun dalam perjalanan ia mangkat, maka saudaranya, Berke. Berke atau Baraka menjadi penggantinya. Ia secara terang-terangan menyatakan dirinya masuk Islam, maka rakyat berbondong-bondong juga ikut masuk Islam.
            Menurut Abd al-Ghazi, setelah naik tahta, tidak lama kemudian Berke dalam perkjalanan berkunjung pulang dari Bukhara, kafilahnya diaapit oleh dua pedagang muslim. Ia bertanya kepada mereka tentang Islam. Penjelasan-penjelasan dari kedua orang Islam membuatnya ia sadar dan secara suka rela tanpa paksaan masuk Islam. Najm al-Din pengarang muntakhab al Tawarikh mempersembahkan kepada Berke tentang sejarah Nabi Muhammag Saw, perjalanan Dakwah Nabi, dan perlawanan kafir quraisy, serta analisis perbedaan ajaran Kristen dengan Islam. Membaca karya tersebut Bekte semakin yakin dan mencintai Islam.
                        Seluruh anggota pasukannya (Berke) adalah Islam. Orang-orang yang dipercaya memberikan kesaksian bahwa dikalangan tentara Berke ditetapkan berlakunya suatu etiket bahwa setiap prajurit harus memiliki sajadah, sehingga semuanya melakukan shalat tepat pada waktunya. Tak seorang pun di bolkehkan minum-minuman keras, mereka selalu di samping ulama-ulama besar, ahli tafsir, hadits dan fikih. Berke memiliki banyak kitab-kitab agama, dan diskusi-diskusi sering di adakan bersama ulama, dimana masalah-masalah yang di bahas berkisar mengenai hukum agama. Sebagai muslim ,Berke Khan termasuk seorang orthodox yang shaleh. Menjelang hancurnya Golden Horde, berdirilah beberapa dinasti Tatar yang merdeka di antaranya :
a.      Dinasti Khazan (1437-1557), pendirinya Ulugh Muhammad Khan.
b.      Austrakhan (1466-1556), pendirinya Qasim Khan anak Uluhg Muhammad Khan.
c.      Cremia (1420-1783), pendirinya Tash-Timur dan Ghazi Girai.[8]
3. Dinasti Ilkhan (1256-1335 M)
                        Dinasti Ilkhan adalah salah satu cabang dari dinasti Mongol yang didirikan oleh Hulagu. Ilkhan dalam bahasa Mongol berarti “kepala suku”, dalam makna khusus di kalangan Mongol disebut, perwakilan dari pusat kekuasaan Khan Agung di Karakuram. Semenjak Hulagu berkuasa di Persia dan sekitarnya sebagai Ilkhan (1256-1267 M), kondisi beragama pada masa Hulagu sangatlah toleran, namun agama Islam sangatlah lamban dibandingkan agama Kristen dan Buddha. Ia menerima persekutuan dari kekuatan Kristen Timur, seperti raja Ar-Menia dan pasukan Salib. Anaknya Abagha Khan menikah dengan putri dari Kaisar Konstantinopel, sehingga perkembangan selanjutnya, Hulagu membawa kehancuran pemerintahan Islam yang telah berkuasa atas dunia selama 500 tahun itu berakhir dengan tragis.
                        Hulagu Khan, salah seorang raja Mongol yang ditakuti. Sejarawan mencatat dan tidak ada yang berbeda pendapat mengenai ia seorang penguasa yang zalim dan kejam, melenyapkan pusat peradaban umat manusia (Baghdad), namun tidak dilupakan juga ia adalah pendiri dinasti besar dan luas dan dari dinasti tersebut memberi sembangsih yang begitu berharga terhadap Islam.                         Hulagu juga menyukai ilmu pengatahuan, pendidikan serta kegiatan ilmiah.
Hulagu meninggal tahun 1265 M dan diganti oleh anaknya, Abaga ( 1265-1282 M), ia sangat menaruh perhatian kepada Kristen dan selanjutnya masuk Kristen, berkat bujukan istrinya yang beragama Kristen Dekuz Khatun. Istananya banyak dipenuhi pendeta Kristen, diantaranya sebagai penasehat politik. Pada tahun 1274 M, Abagha mengirim utusan khusus menghadiri Konsili Lyon. Dia sering berkirim-kiriman surat dengan Raja Louis (1266-1270M) dari Prancis dan raja Charles I (1268-1285M) dari Sicilia dan raja James Aragon untuk menerima persekutuan mereka melawan kaum Muslim.
                        Raja yang ketiga dari dinasti Ilkhan, Tangudar (1282-1284M), yang masuk Islam. Ia masuk Islam dan menggantikan namanya dengan Ahmad. Karena masuk Islam, Ahmad ditantang oleh pembesar-pembesar kerajaan yang lain. Akhirya,ia ditangkap oleh Arghun dan kemudia dibunuh serta menggantikan Ahmad sebagai raja. Raja dinasti Ilkhan yang keempat ini sangat kejam terhadap umat Islam. Banyak di antara mereka yang dibunuh dan diusir.
                        Pengganti Arghun, yaitu Baidu Khan (1293-1295) berbuat serupa. Namun justru pada masa pemerintahan Baidu inilah terjadi peristiwa paling bersejarah. Putranya yang menggantikan dia, Ghazan Khan (1295-1302M), walaupun sejak kecil dididik sebagai penganut Budhis yang fanatik, ketika naik tahta menyatakan memeluk Islam.
                        Peristiwa tersebut merupakan kemenangan besar Islam. Ghazan Khan lahir pada tanggal 4 Desember 1271 M di Abaskun dekat Bandar-e-Shah. Usianya ketika naik tahta belum genap berusia 24 tahun. Pada umur 10 tahun dia diangkat menjadi gubernur Khurasan. Pendamping dan penasehatnya ialah Amir Nawroz, yang telah memerintah selama 39 tahun di beberapa provinsi Persia di bawah pengawasan langsung Chengis Khan dan penggantinya. Amir Nawroz merupakan pembesar Mongol awal yang memeluk agama Islam secara diam-diam. Atas usaha dialah Ghazan Khan memeluk agama Islam. Ajakan memeluk Islam itu berawal ketika Ghazan sedang berjuang merebut tahta kerajaan dari saingan utamanya, Baidu. Amir Nawroz berkata, “Tuanku, Berjanjilah, apabila kelak Allah menganugerahkan kemenangan kepada Tuan, sebagai ucapan syukur Anda mesti memeluk agama Islam” Atas petunjuk dan nasihat Amir Nawroz itulah Ghazan Khan berhasil mengalahkan Baidu dan naik tahta pada tanggal 19 Juni 1295 (4 Sya’ban 644 H). Janjinya itu dipenuhi hari itu juga. Bersama 10.000 orang Mongol lain, termasuk sejumlah pembesar dan jenderal dia mengucapkan dua kalimah syahadat di hadapan Syekh Sadr al-Din Ibrahim, putra tabib terkemuka al-Hamawi.
                        Menurut Edward G. Browne (Literary History of Persia), Vol. II, 1956), dalam sejarah Persia Sultan Ghazan merupakan raja Mongol pertama yang mencetak uang dinar dengan inskripsi Islam. Syariat Islam kemudian kembali ditegakkan dan undang-undang kerajaan diganti dengan undang-undang baru yang bernafas Islam. Pada bulan November 1297 M, amir-amir Mongol mulai memakai jubah dan surban ala Persia, dan membuang pakaian adat nenek moyangnya.
Periode Ghazan ditandai dengan kejayaan di bidang ilmu pengetahuan disebabkan bahwa Ghazan sendiri mencintai ilmu pengetahuan. Sultan Ghazan wafat 1304 dalam usia 32 tahun akibat serangan jantung usai penaklukkan ke Syam. Kemudian digantikan takhta oleh Uljytu/Uljaytu (saudara kandung). Penggantinya, Uljytu Khudabanda (1304-1316), meneruskan kebijakannya. Tetapi raja Mongol yang paling saleh ialah Abu Sa’id (1317-1334 M), pengganti Uljaytu.
Abu sa’id menanamkan ajaran Islam atas ada-adat yang tidak baik pada bangsa Mongol. Abu Sa’id, juga dikenal sebagai penyair, sastrawan, penulis, dan penyanyi dan dia banyak menguasai bahasa. Ibn Taghribirdi memujinya, “sultan seprang penguasa yang kharismatik, dermawan, cerdas, pemberani, seorang pemuda yang cakap, juga lucu, dan berhati baik”.
                        Namun, pada masa pemerintahan Abu Sa'id (1317-1334 M), penggantinya Muhammad Khuda Bandah, terjadi bencana kelaparan yang sangat menyedihkan dan angin topan dengan hujan es yang mendatangkan malapetaka. Kerajaan Ilkhan yang didirikan Hulagu Khan ini terpecah belah sepeninggal Abu Sa'id. Masing-masing pecahan saling memerangi. Akhirnya, mereka semua ditaklukkan oleh Timur Lenk yang membangun dinasti Timuriah di atas puing-puing dinasti Ilkhan.
                        Dengan demikian, maka berakhirlah riwayat dinasti Ilkhan yang membawa kejayaan Islam yang sangat signifikan baik dalam sejarah Islam maupun dalam sejar Bangsa Mongol.[9]

D.    Hasil Peradaban Dinasti-Dinasti Islam Mongol
            Dampak positif dan negatif kekuasan dinasti-dinasti Mongol tentunya pasti ada. Dampak segi negatif jelas, dengan adanya pembunuh secara massal baik yang dilakukan Chengis Khan sendiri. Kehancuran kota-kota dengan bangunan-bangunan yang indah dan perpustakaan-perpustakaan yang memuat bermacam ilmu pengetahuan telah dibumi hanguskan oleh serangan Mongol yang dipimpin oleh Hulagu yang beruntun membunuh khalifah Abbasiyah dan keluarganya yang dilakukan secara tragis.
            Adapun dampak positif dari hasil peradaban dinasti-dinasti Mongol tersebut, dengan penghancuran dan kerusakan yang tiada guna, namun Chengis Khan sendiri mencitai ilmu pengetahuan, dan dia sangat menghormati para cendikiawan. Bahkan, dia membangun koto-kota yang indah yang menjadi  pusat peradaban dunia baik di Asia dan Eropa, seperti Tashkan, Samarkhand, Heart, Tabriz, dan lain. Kedatangan Bangsa Mongol juga menhidupkan kembali jalur perdagangan Sutra yang sebelumnya sudah ada pada abad pertama Masehi dari Eropa sampai ke China.
                        Kemudian berpindahnya pusat ilmu. Kegiatan ilmu pada masa Abbasiyah berpusat di kota-kota Baghdad, Bukhara, Naisabur, Ray, Cordova, Sevilla, ketika kota-kota tersebut hancur maka kegiatan ilmu berpindah ke kota-kota Kairo, Iskandariyah, Usyuth, Faiyun, Damaskus, Hims, Halab, dan lain-lain kota di Mesir dan di Syam.
                        Tumbuhnya Ilmu-ilmu baru. Dalam masa ini mulai matang ilmu umron (sosiologi) dan filsafat tarikh (philosophy of history) dengan munculnya Muqaddimah Ibn Khaldun sebagai kitab pertama dalam bidang ini. Juga mulai disempurnakan penyusunan ilmu politik, ilmu tata usaha, ilmu peperangan, ilmu kritik sejarah.
                        Dalam masa ini sekolah-sekolah yang teratur tumbuh subur, terutama di Mesir dan Syam, dan yang menjadi pusatnya adalah Kairo dan Damaskus. Pembangun sekolah pertama adalah Sultan Nuruddin Zanky yang kemudian diikuti oleh para raja dan Sultan sesudahnya. Berdirilah berbagai corak sekolah baik karena perbedaan madzhab ataupun karena kekhususan ilmu. Ada sekolah untuk ilmu tafsir dan hadits, ada sekolah untuk fiqh berbagai madzhab, ada sekolah untuk ilmu thib dan filsafat, ada sekolah untuk ilmu riyad-hiya’at (ilmu pasti, ilmu musik, dan ilmu eksakta lainnya). Dari sekolah ini keluarlah para ulama’ dan sarjana yang jumlahnya cukup banyak. Keadaan di Mesir pun demikian juga, bahkan jami’ah Al-Azhar Kairo menjadi bintangnya segala sekolah, tidak saja karena usianya yang lebih tua tetapi yang terutama karena mutu ilmu yang tinggi. Kecuali banyaknya sekolah, zaman ini istimewa dengan lahirnya mausu’at dan majmu’at (buku kumpulan berbagai ilmu dan masalah kira-kira seperti encyclopedia). [10]
            Pasca masuknya Islam para penguasa Mongol ini juga memberi aroma baru bagi peradaban Islam, seperti yang tidak asing lagi Mubarak Shah penguasa Islam pertama Mongol ini, dan dia mencetak mata uang perak dengan nama “Kabaki”. Kemudian yang tak kalah menariknya Timur Lang, seorang yang mempunyai cita-cita untuk kekuasaan dan harta, namun dibalik kekuasaan dan harta rampasan yang dimilkinya dihabiskan untuk mensejahterakan, dan membangun kota-kota yang indah serta kegiatan intelektual. Perlu dicatat, dia memiliki sifat netral dan jujur, kaya-miskin semua dipandang sama (tidak pandang bulu). Timur sangat menhormati ilmuwan dan pujangga. Perkembangan selanjutnya, masa Uzbeg Khan (Golden Horde), penguasa yang very staunch, administrasi kenegaraan diterapkan sesuai dengan Syari’ah Islam dan ia menggantikan Yassa dengan hukum Islam.



















E.     PENUTUP

            Sejarah Islam di kalangan Mongol, dalam banyak hal memiliki perbedaan dengan sejarah Islam di belahan dunia lain. Kebangkitan kekuasaan muslim adalah dengan berhasilnya menanamkan ajaran tauhid di kalangan Mongol. Namun bila dicermati, sedikit mengherankan Bangsa Mongol yang identik dengan bangsa yang keras, akhirnya menerima kehadiran Islam tanpa harus diselimuti konflik yang berarti.
            Kehancuran peradaban Islam (Khalifah Abbasiah), tidak bisa dihilangkan begitu saja dari benak pikiran kita, yang dipimpin oleh Hulagu Khan untuk membumi hanguskan kota Baghdad (1258 M). namun dari keturunan Chengis Khan (Mongol), membangun kembali peradaban Islam setelah mereka memeluk Islam, yang disebut tiga generas, yaitu Dinasti Chaghtai, Golden Horde, dan Ilkhan. Tepatnya seperti dari penjelasan di atas kurang 40 tahun berikutnya, saat Ghazan Khan naik Takhta 1295 M, dia membangun kembali peradaban Islam namun tidak di Asia Barat, melainkan di Sentral Asia, Persia dan sekitarnya.
            Memiliki keunikan tersendiri terkait Bangsa Mongol yang berangkat dari bukan keturunan Arab, namun peradaban yang dihasilkan dapat disejajarkan dengan hasil kebudayaan dengan dinasti-dinasti lainnya. Namun juga memiliki kesamaan, bahkan penuh intrik, fitnah dan kadang mempertaruhkan nyawa.












DAFTAR PUSTAKA
Sunanto, Musyrifah. 2003.  Sejarah Islam Klasik. (Bogor: Kencana)
M. Lapidus, Ira. 2000. Sejarah Sosial Umat Islam, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada)
Abdul Karim. 2006. Islam di Asia Tengah. (Yogyakarta :BAGASKARA)

Ading Kusdiana. 2013. Sejarah dan Kebudayaan Islam. (Bandung : CV. Pustaka Setia)



           



[1] Abdul Karim, Islam di Asia Tengah, (Yogyakarta :BAGASKARA, 2006), hlm. 28
[2] Ading Kusdiana, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Bandung : CV. Pustaka Setia, 2013), hlm. 44.
[3] Ibid., hlm. 45.
                [4] Abdul Karim, hlm. 95
                [5] Ading Kusdiana, hlm. 42
                [6] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2000), hlm.                     427.
                [7] Abdul Karim, hlm.49-60
                [8] Abdul Karim, hlm. 61-72
                [9] Abdul Karim, hlm. 79-94.
[10] Hj. Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, (Bogor: Kencana, 2003)hlm. 194-197